Monday, June 11, 2012

#O-U-R'S#


"Makan jama'ah.." (ritual tak terlupakan)"
Ini cerita kami..cerita pondok kami….

Pondok Pesantren Pondok Madinah…atau biasa kami sebut PonPes Madinah, Trendokmad, Pomad dan PPM, adalah pesantren kami “tercinta”..
Tempat kami belajar banyak hal..mengerjakan banyak hal..
 (..menjadi salah..menjadi benar..
  menjadi angkuh dan bangga..menjadi baik hati..
 menjadi egois..menjadi tau berbagi..
 menjadi “penguasa”..menjadi “yang dikuasai”…
 menjadi mandiri..menjadi “satu” yang solid)

Tempat kami “bereksperimen” selagi kami menuju “dewasa” (atau bahkan sudah ada yang menjadi dewasa disana…:D)..
“Kau pasti ingat ketika kau melangkah memasuki gerbangnya dengan perasaan tak tentu, rasa segan-takut takut-bahagia-sedih-senang-khawatir-cemas yang di campur dalam waktu yang sama (bahkan mungkin ada beberapa orang yang sambil menangis tetap dipaksa masuk kesana oleh orangtuanya). 

Dan kau juga pasti bisa mengingat siapa teman pertamamu, atau teman sekamarmu..bagaimana kau memasukkan pakaian-pakaian kotormu kedalam lemarimu- berbaur dengan baju bersih- karena kau belum bisa mencucinya sendiri-menunggu “sang ibu” datang mengambil,mencuci dan mengembalikannya setelah disetrika rapi. 

Kau juga mungkin ingat ketika kau “harus” menjadi junior yang “wajib” patuh-tanpa jawaban ketika senior memintamu (kadang dibaca: memerintahmu) melakukan sesuatu atau membelikan sesuatu (kadang malah banyak) padamu. hehe…kau harus menajadi anak “penurut” meski dihatimu “penuh gejolak”..jika tidak, maka kau akan menemuinya di satu ruang---dimarahi massal—bahkan bisa lebih buruk dari itu. jadilah dirimu, hanya bisa membantah, mencak-mencak, marah-marah balik, mencaci..dibelakang sang senior (cacian yang mungkin “hanya berani” kau ucapkan dalam hatimu..atau didepan temanmu saja).

Tapi pada akhirnya, kau pun bisa mengingat saat waktu membawamu “naik pangkat” menjadi “senior”..sebenarnya kau bisa memilih untuk belajar dari “masa lalu” dan menjadi “senior baik hati” (hingga tidak ada junior yang harus mencacimu,seperti kau dahulu mencaci). Tapi entah, kau memutuskan untuk meneruskan “ritual” yang diwariskan oleh generasi-genarasi sebelummu..merasa bangga dengan itu…(kau menyebutnya: waktunya balas dendam,heheh)….dan akhirnya….begitulah peradaban berjalan.”

Demikianlah, Jika sebagian orang menilainya “seni” hidup dipondok.. sebagian lagi mengartikannya “proses belajar”…”eksperimen”..
bagaimana kita tau kebenaran jika tak pernah berbuat salah…
bagaimana kita tau “hidup mandiri” jika tidak pernah “mencoba sendiri”…
bagaimana kita tau rasa “kebersamaan” jika kita hanya trus “tinggal sendiri”,
bagaimana kita tau “kapan waktu berani” jika kita tak kenal “rasa tidak enaknya ditindas tanpa alasan”…
dan bagaimana kita akan tau “bahwa menjadi orang “baik”..”berbuat baik” pada orang lain adalah semestinya….jika kita tidak pernah melihat orang lain dijahati”…

Hmm…
Masih banyak lagi…yah, tentunya masih banyak lagi yang kita pelajari dari sana…(saya yakin takkan pernah habis untuk diceritakan)..
Hanya sayangnya…kita tak tau apa yang “bisa” kita lakukan untuk pondok tercinta kita sekarang ini………………………………………
(bisa jadi…hanya kita yang akan bisa merasa “kenangan” itu…tidak untuk masa sekarang ini..kecuali...jika ada seseorang atau beberapa orang..atau bahkan sejumlah orang yang berinisiatif untuk malakukan sesuatu)

Friday, June 8, 2012

berbagi..tak pernah rugi..


Sudah seminggu ini saya mengalami kesulitan keuangan alias kere..meski juga nda kere-kere amat karena sebenarnya saya masih punya dua buah celengan yang hampir penuh. Namun masalahnya, uang yang ada dicelengan tersebut hampir semuanya recehan..seratusan lagi.jadi, meski masih bisa dipakai buat membeli makanan-makanan ringan seperti keripik, wafer lima ratusan dan teh gelas, uang-uang tersebut tidak bisa saya pakai membeli kebutuhan-kebutuhan besar, seperti sabun, beras, tahu tempe, air galon (maklum dikosan saya tidak ada air PAM, yang ada air sumur yang lumayan keruh)..kan tidak enak sama si penjual kalau saya harus membayar semua kebutuhan tadi dengan setumpuk uang logam seratusan..bisa-bisa dikira korup sumbangan masjid :D :D

Sebenarnya saya tidak bingung dengan keadaan seperti ini…bukan karena saya terbiasa, namun karena saya sangat yakin dengan rezki Allah. Sungguh, selama saya hidup Alhamdulillah saya tidak pernah betul-betul kehabisan uang ataupun kelaparan. Saat saya tidak punya uang, ada saja rezki yang entah dari mana datangnya..kadang  tiba-tiba ada teman yang memberi, kadang nemu didalam buku, atau ada saja jalannya. Karena itu semualah saat saya tak punya uang, saya tidak pernah bingung, sedih, apalagi galau….nda la yawwwww….:D:D

Kembali ke cerita inti..
Seminggu tidak punya uang, saldo di atm tinggal 99 ribu..itupun saya memaksa diri untuk tetap bertahan tidak menariknya, mengingat siapa tau satu waktu ada kebutuhan yang lebih mendesak dan benar-benar butuh uang. Di tangan hanya ada dua lembar uang lima ribuan…itu saja. sebenarnya, saya bisa langsung nelpon bapak untuk mengabarkan “keadaan dompet” saya, dan bapak pasti akan bermurah hati mengucurkan dana, namun sungguh malu rasanya…masa anak sebesar saya masih minta uang orang tua…ah..tidak mungkin…maka dengan “rasa malu” itu..saya bertahan…

Dan hiduplah saya dengan seirit-iritnya…hingga hari kemarin, bapak kos membawa bon pembayaran lampu 44 ribu….(di mana saya mau mengambil uang sejumlah itu,sekarang ini?)…benar-benar tak ada selain dua lembar lima ribuan itu…maka saya diamkan bon tersebut. Malamnya saya mencoba keluar cari makan bersama seorang teman, berhubung teman saya terlebih dulu ingin mengisi bensin motornya, maka saya diminta menunggu di bagian depan jalan pom bensin-nya. Sambil menunggu, saya melihat seorang anak perempuan yang menunggu pelanggan pom bensin untuk meminta uang, ala kadarnya. Iseng saya panggil…dan inilah penyakit saya..saya sangat suka dan sangat puas memberi pada seseorang justru di saat saya juga sangat membutuhkan. Maka pindahlah selembar uang lima ribuan dari saya ketangan anak tersebut…dan demikianlah…saya hanya sangat senang bisa memberi.

Kesenangan saya nyatanya tidak sejalan dengan sejumlah uang yang harus saya bayarkan untuk penggunaan lampu sebulan ini. Saya tidak mungkin “cuek” dengan hak orang yang sudah saya pakai. Maka pagi ini..saya mencoba mengorek-ngorek celengan yang ada..dapat,,,,11 lembar uang seribuan lusuh dan 1 lembar lima ribuan. Di tambah dengan 5 ribu sisa semalam semuanya 17 ribu…jadi masih butuh 27 ribu lagi…saya memutar otak bagaimana bisa mendapatkan sejumlah sisanya..saya mulai dengan memeriksa bagian atas lemari, tempat saya biasa menaruh barang-barang kecil…tak ada, memeriksa kotak-kotak penyimpanan barang-barang tak terpakai berharap bisa temukan selembar dua lembar uang..juga tak ada, memeriksa semua tas-tas yang tergantung dibelakang pintu..sungguh lagi-lagi dengan harapan saya bisa menemukan sejumlah uang disana. bahkan buku-buku pun tak luput dari inspeksi ini..mengingat saya paling sering menemukan uang didalam buku. Tapi kali ini semuanya nihil…..jangankan selembar…sepeser uangpun tak ada.

Kelelahan mencari disemua tempat tadi...akhirnya saya duduk menyandar pada salah satu rak buku..berusaha berfikir lagi…dimana saya bisa menemukan uang,,,saya hanya perlu mencari..Allah pasti memberi. Toh selama ini saya pun tak pernah dibiarkan kelaparan atau tak punya uang sama sekali. Apalagi sekarang saya benar-benar butuh..

Setelah kembali bersemangat, saya langsung memulai inspeksi berikutnya..sasarannya adalah rak buku yang sebelumnya saya sandari..rak pertama..saya rogoh belakang buku-buku..nihil…tak ada apa-apa..rak kedua, demikian juga..rak terakhir…akhirnya, setelah mencari-cari sekian lama..saya merasa tangan saya menyentuh lembaran kecil…dengan semangat saya tarik..uuh, ternyata hanya sebuah kertas catatan pengeluaran saya sebulan lalu, saya masukkan lagi, kembali saya menemukan potongan kertas kwitansi tiki saat mengantar buku pesanan saya…tak ada uang. Dengan sedikit kecewa, saya masukkan lagi mungkin saja ada yang terluput…dan benar saja..setelah sekian lama mencari, akhirnya saya segulung kecil uang kertas..setelah saya buka, saya melihat selembaran uang dua ribuan, selembar lagi uang seribuan. Dan yang paling bikin saya terkaget-kaget bercampur senang bercampur takjub adalah disana ada selembar uang 50 ribuan lagi….saya spontan sujud syukur…benar-benar saya tak menduganya…saya mencari dengan harapan menemukan beberapa lembar uang untuk menggenapkan pembayaran lampu saya…namun Allah memberi lebih…Sungguh tak terduga.
inilah uang hasil "temuan" saya :D:D
Selesai dengan rasa takjub..saya mulai berfikir..apa yang saya telah buat hingga Allah memberi rezki ini?, pikiran saya  akhirnya tertuju pada kejadian semalam..dan saya yakin itu ada hubungannya..ketika saya memberi seorang anak perempuan  selembar lima ribuan yang saya punyai…ternyata benar, Allah menepati janjinya…Dia menggantinya dengan sepuluh kali lipat.. “Man Ja’a bil hasanati falahu Asyru amsaliha…”-Barang siapa yang membawa amal baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat (amal)nya- (Al-An’am: 160). Demikian pula dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari-Muslim: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya, dan satu kebaikan dibalas
sepuluh kali lipatnya bahkan sampai tujuh ratus kali lipat”
.

Dengan janji Allah demikian, maka apalagi yang menahan kita berbuat baik???....sungguh, semua perbuatan kita (manfaat-ruginya) akan kembali pada kita juga…dan percayalah…saya sudah sering membuktikannya, termasuk kejadian hari ini..jadi, tunggu apa lagi??..mari bersama menanam kebaikan…trus berusaha berbuat baik…menjadi orang baik..:D:D…let’s try !!! 


Thursday, June 7, 2012

Aku cemburu
Pada mereka yang berani
Memilih berubah walau
Perih dan tidak mudah...

Aku cemburu
Pada mereka yang istiqomah
Walau sangat payah...

Aku cemburu
Pada mereka yang memiliki cinta Nya
Walau teraniaya...

Aku cemburu
Pada mereka yang tetap berjuang
Walau tak selalu berujung senang...

Aku cemburu
Pada mereka yang terus bergerak
Sampai jantung tak berdetak...

Aku cemburu
Pada mereka yang apapun bernilai Akhirat...
Sedang aku...???
Apapun adalah dunia!!!


(tsania hasanah...)